Ekspor China Melambat, Perang Dagang akan Memperburuk Suasana
Surabaya, - Pertumbuhan ekspor China mulai melemah pada bulan Agustus yaitu di bawah 10%, turun lebih dari 12% daripada bulan sebelumnya, menurut data pemerintah selama akhir pekan. Secara signifikan, hal ini merupakan kinerja China paling dibawah rata - rata untuk tahun ini.
Situasi ini akan memperburuk pada beberapa bulan mendatang, ketika perang perdagangan antara China dan Amerika Serikat meningkat. Presiden Donal Trump berkata bahwa Hari Jum'at, Dia bersedia untuk memberlakukan gelombang besar tarif lain pada $267 milyar produk China. Diatas tarif yang sudah ada, langkah tersebut akan membuat pajak baru pada $505 miliar barang yang sudah diimpor Amerika Serikat dari China tahun lalu.
Akibatnya, pertumbuhan Ekspor China dapat jatuh ke dalam satu digit dan jatuh pada zona merah perekonomian pada beberapa bulan mendatang. Menurut analis BANK NOMURA, "itu akan membuat lebih banyak tekanan pada ekonomi yang sedang melawan angin serius."
Beberapa penyebabnya, yaitu dari perlambatan pertumbuhan ekspor ke mitra dagang besar seperti Eropa dan Jepang.
Sebenarnya untuk ekspor ke Amerika Serikat mengalami peningkatan pada rekor tertinggi untuk bulan Agustus. Dibantu oleh penurunan mata uang China terhadap dolar AS dan para perusahaan yang dengan cepat mengirim barang sebelum putaran berikutnya, menurut analis.
Inti perselisihan antara China dan Amerika Serikat adalah surplus perdagangan. "Fakta bahwa itu masih tumbuh, memungkinkan akan menambah gesekan antara dua teratas ekonomi dunia", kata Louis Kuijs, Kepala ekonomi Asia di perusahaan Riset Oxford Economics, pada Hari Senin.
Saham China dan Penurunan Dolar Australia
Dolar Australia, yang dipandang sebagai ukuran kepercayaan dalam ekonomi China, karena sejumlah besar bahan mentah dari Australia dibeli oleh perusahaan China,juga berada di bawah tekanan. Itu mendekati level terendah terhadap dolar AS sejak awal 2016, ketika kekhawatiran runtuhnya pertumbuhan Cina mengguncang pasar.
Ekspor yang jatuh dapat menekan Beijing untuk menemukan cara baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menurut Nomura. Para pejabat China telah beralih ke pemotongan pajak, belanja infrastruktur dan kebijakan moneter karena berusaha untuk menopang pertumbuhan.
Perekonomian China mulai mendingin tahun ini, dan tanda-tanda stress berlipat ganda. Data pekan lalu menunjukkan bahwa pabrik-pabrik China kehilangan pesanan ekspor dan melemahnya pertumbuhan dalam investasi infrastruktur.
"Perlambatan ekspor yang masuk menunjukkan mungkin diperlukan waktu lebih lama bagi pertumbuhan China untuk pulih," kata analis Nomura.
Pasar saham China dan mata uang sedang terpukul dalam beberapa bulan terakhir oleh investor yang khawatir tentang kesehatan ekonomi negara itu.
Tetapi banyak analis yang meragukan otoritas tentang akan dengan sengaja mendevaluasi Yuan Cina terhadap dolar untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekspor, karena dapat memicu gejolak di pasar keuangan dan banjir uang yang mengalir keluar dari negara itu.
Source :
~~~~~~~~~
Sebagai pembaca skeptical, saya tidak langsung menanggapi berita ini secara satu sudut pandang saya membaca berita berita lainnya mengapa pasar ekspor China sekarang ini sedang melambat. Setelah membaca beberapa berita, memang sekarang ini sedang terjadi perang dagang antara China dan Amerika Serikat yang mempengaruhi ekspor dan terjadi pelambatan ekspor dari China.
Sebagai seorang curious, beberapa informasi diatas sudah dapat menggambarkan apa yang terjadi, namun masih beberapa masalah yang penjelasannya kurang jelas.
Komentar
Posting Komentar