NIRBAYA
NIRBAYA: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru
Buku ini
mengisahkan tentang catatan harian Mochtar Lubis saat berada di Penjara
Nirbaya. Kisah ini dimulai dari cerita penangkapannya, lalu masa pemeriksaan,
keluar dari penjara, dan kehidupan setelah keluar dari penjara.
Berawal pada hari
Selasa, 4 Februari 1975 rumah Mochtar Lubis didatangi kejaksaan, kemudian ia
ditangkap. Saat tiba di tahanan Nirbaya ia melihat banyak paviliun. Ia
ditempatkan di paviliun AMAL. Paviliunnya tidak terkunci hanya pintu kompleknya.
Di tahanan ini banyak orang penting yang ditahan. Sehari setelahnya, ia
diperiksa untuk meminta keterangan. Mochtar Lubis meminta agar proses
pemeriksaan tidak berlarut – larut seperti saat orde lama. Jika memang tidak
salah agar segera terbebas, dan jika memang salah agar segera dibebaskan, jika
memang terbukti bersalah ia akan menerima hukumannya. Hari selanjutnya kegiatan
yang ia lakukan hanyalah bermain badminton dan membersihkan paviliun yang ia
tinggali. Selanjutnya, para tahanan bercerita bahwa sejak kedatangaan Mochtar
Lubis, mutu makanan di tahanan meningkat. Kegiatan pada hari Sabtu, 8 Februari
1975 yaitu berjalan keliling dan melakukan yoga.
Mochtar Lubis mendengar cerita dari
Omar Dhani tentang fasilitas penjara Cipinang yang tua dengan sel yang sempit. Dalam
renungannya Mochtar Lubis heran, mengapa banyak yang tidak meyukainya, ia
bukanlah orang yang berjuang dalam suatu organisasi. Ia hanyalah seorang yang
senang mencurahkan isi hatinya lewat sebuah tulisan. Lewat tulisannya Mochtar
Lubis ingin membuat orang tersadar akan perilaku salah yang telah dilakukan.
Banyak kawan yang telah menegurnya agar kritik – kritiknya tidak ditujukam
secara langsung namun secara sindiran
halus. Namun menurut pengalamannya cara tersebut juga tidak produktif. Hal
tersebut malahan bisa menjadi penghambat komunikasi secara terbuka. Di
Indonesia ini masih kuat budaya feodal,
dimana yang berkuasa selalu benar, dan jarang yang berani untuk membantah. Ia
tetap heran mengapa lewat tulisannya membuat ia masuk penjara kembali.
Suara manis burung – burung sirgunting
membangunkan Mochtar Lubis dipagi hari. Setelah itu melakukan pengambilan cap
tiga jari untuk administrasi. Banyak yang berharap agar penahannya tidak lama.
Namun menurutnya lebih baik berpikir tak akan bebas dari tahanan, daripada
berharap akan bebas setiap saat. Pada hari itu juga ia mendengarkan cerita dari
Jenderal Pranoto yang salah lihat dan mengganggap orang lain adalah istrinya
dari kejauhan. 12 Februari 1975, ia kedatangan tamu saat bermain volley,
Hariman Siregar. Memberitahukan bahwa mahasiswa yang ber demo atas Tanaka tidak
memiliki rencana untuk menentang pemerintahan Soekarno. Keesokannya, ia
kedatangan tamu lagi yaitu Mayor Suwarto dan Jaksa Suyono, yang bermaksud
menanyakan kedekatan Mochtar Lubis dengan Soedjatmoko. Ia berharap agar
Soedjatmoko tidak tertangkap juga.
Tepat dua belas hari setelah ia
berada dalam tahanan. Ia berjumpa dengan perwira AURI yang menceritakan kisah didalam
tahanan, ia bercerita bahwa saat diperiksa mereka disiksa dengan listrik di
kejaksaan AURI, sampai ada dua tahanan yang tewas. Jaksa Suyono datang menemui
Mochtar lubis dengan membawa laporan hasil interogasi tentang Soedjatmoko. Dua
hari setelahnya, Jaksa Suyono datang kembali dan menyanyakan hal yang sama
tentang apa yang di bicarakan Mochtar Lubis dengan Koko (Soedjatmoko) pada
tahun 1974. Berlanjut dengan pertanyaan mengenai pertemuan Mochtar Lubis dengan
Cum (Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumoed) di Bangkok setelah terbebas dari
tahan rezim Soekarno. Tepat pada hari yang sama Mochtar Lubis dikunjungi oleh
Maya, Ike, Iwan, dan Ade dengan membawakan makanan.
Hari selanjutnya ia mendengar dari
Hariman bahwa Mahasiswa yang ditahan di RTM diperpanjang masa tahanannya. Malam
harinya Mochtar Lubis sakit hingga keesokan hari. Dan mendapat informasi dari
Bandrio bahwa berita tentang penahannya sudah tersebar dalam majalah Newsweek.
Sepertinya para jaksa masih penasaran dengan hubungan Mochtar Lubis dengan Cum,
pada hari Sabtu ia masih ditanyai tentang hubungannya dengan Henk Tombokan dan
Cum. Hari Minggu yang sepi, dengan mendengarkan cerita para tahanan. Dipagi
harinya Mochtar Lubis diajak mengobrol oleh Kapten Utomo dan Sihombing. Banyak
tahanan yang mulai bercerita tentang pengalaman – pengalamannya selama di
tahanan. Hari Kamis, Jaksa Suyono dan Mayor Suwarto datang untuk membahas
proses verbal. Mochtar Lubis mendengar cerita dari Bandrio dan Oei Tjoe Tat
tentang Kejadian Hari Jum’at. Dimana Hariman berteriak ketika sholat Jum’at berlangsung. Banyak yang marah,
Hariman meminta maaf, namun ada kata – kata yang membuat tidak suka. Sangat
disayangkan untuk bertengkar didalam penjara. Dan sehari setelahnya insiden tersebut
dapat diselesaikan.
Interogasi kembali dilakukan pada
hari Senin, 3 Maret 1975 dengan pertanyaan yang sama. Tanggal 7 Maret 1975
bertepatan dengan ulang tahun Mochtar Lubis ke 53. Semua keluarganya datang dari
istri sampai cucunya. Setelah itu mereka merayakan ulang tahun dengan tenang.
Keesokannya Mochtar Lubis harus
memeriksa berkas – berkas proses verbal yang dibawakan oleh Mayor Suyarno.
Empat hari kemudian, Mayor Suyarno datang lagi membawa berkas – berkas proses
verbal tersebut, yang membuat Mochar Lubis menghabiskan setengah harinya untuk
memeriksa dan membetulkan. Hari selanjutnya pun sama, Jaksa Suryono memberikan
lebih banyak lagi berkas proses verbal untuk diperiksa. Omar Dhani mendapat
jatah kunjung rumahnya pada 18 Maret 1975 selama 3 jam, dan jika mendapat
pengawal yang baik bisa memperpanjang hingga 5 jam. Lalu ia bercerita tentang
salah satu tahanan yaitu Widodo, yang tidak diperbolehkan menghubungi istrinya.
Hujan turun pada pagi hari Rabu,
menyebabkan Mochtar Lubis hanya melakukan yoga. Omar Dhani bercerita bahwa
di blok Nusa ada bekas Oditur Jenderal
AURI Projowardono, yang ingin menemui Mochtar Lubis, dulunya mereka pernah
bertemu di MBAU. Hari ini juga ada kabar bahagia untuk tahanan Gestapu/PKI
tujuh dari mereka ( satu dari RTM, enam dari concentration camp) dibebaskan.
Mereka mendatangi blok Mochtar Lubis untuk mengucapkan selamat tinggal. Salah
satu dari mereka telah ditahan kurang lebih 9 tahun. Mochtar Lubis berharap
tahanan lainnya dapat dibebaskan juga.
Selanjutnya juga
ia menceritakan bahwa setelah ia dimasukkan ke penjara banyak sekali musibah –
musibah yang terjadi di Indonesia adalah karena kualat kepadanya. Bencana alam,
terkuaknya rahasia Pertamina, hingga kekalahan Rudi Hartono dikarenakan
pemerintah yang menahannya katanya. Beberapa tahanan lain mengunjunginya untuk
meminjam buku, karena selama ini mereka hanya bisa membaca buku religi. Tahanan
Gestapu sedang dalam demam “liberisasi”, mereka berekspektasi bebas lebih
cepat. Tersebar rumor bahwa akan dilepaskannya 200 tahanan AURI. Ia juga
kembali menyoroti tentang berita Pertamina, bahwa ia pernah menceritakan
kebobrokan Pertamina di Indonesia Raya namun
pemerintah hanya tutup mata tanpa berani melakukan apa - apa.
Di halaman –
halaman selanjutnya ia membuat berbagai puisi yang menceritakan tentang
kehidupannya di Nirbaya. Ia juga membuat beberapa surat yang ia tujukan ke
istrinya, mengingat kembali bagaimana kebersamaan mereka setelah ia dibebaskan dari
penjara rezim Soekarno dulu. Ia juga masih sempat memikirkan bagaimana mengatur
ekonomi keluarga mereka dengan mengatur usaha mereka di Tugu. Ia kembali
membuat surat untuk istrinya disitu ia bercerita tentang kegiatannya sehari –
hari, proses ia diinterogasi tentang hubungannya dengan Koko dan Cum, juga
kemarahannya pada rezim Soeharto yang menjebloskannya ke penjara tanpa ada
perkara jelas.
Hari berikutnya ia menjalani proses verbal
sebagai tersangka dalam peristiwa Malari. Dia diinterogasi tentang demonstrasi
mahasiswa. Ia juga dikatakan akan diberikan masa percobaan. Ia diinterogasi
banyak tentang hubungannya dengan Koko dan Cum hingga pertemuannya di Bangkok.
Di suratnya yang
selanjutnya ia kembali menceritakan tentang bagaimana modal asing yang masuk ke
Indonesia. Menyebabkan pengusaha pribumi terdesak. Bagaimana perusahaan asing
hanya mengutamakan “maksimasi keuntungan” tanpa bertanggung jawab pada
keselamatan dan kepentingan masyarakat. Ia juga bercerita bahwa masyarakat yang
berindustri maju tak berhasil menciptakan rasa bahagia. Sehingga muncul banyak
gejala – gejala buruk dalam masyarakat mereka. Ia juga bercerita ia sedang
menyiapkan lukisan yang ditujukan untuk istrinya, Hally.
Hari berikutnya ia
menceritakan banyak tahanan yang dibebaskan hari itu. Beberapa perwira juga
tahanan Gestapu dibebaskan. Ia kembali berbicara tentang bagaimana keadilan di
negeri ini masih tidak bisa ditegakkan. Negeri yang sudah merdeka namun belum
menghormati kemerdekaan manusia. Pemimpin – pemimpin di negeri ini tidak
melaksanakan keadilan secara benar.
Di surat
selanjutnya ia bercerita kembali tentang Buyung. Buyung telah kehilangan berat
badannya, namun bertambah semangatnya. Betapa Buyung sangat menjunjung tinggi
hukum, kebenaran, dan keadilan. Ia menolak diinterogasi karena ia ditahan
secara illegal. Hari selanjutnay ia bercerita bahwa matinya listrik membuat
pompa air tidak bekerja sehingga ia harus menyuling air minum sendiri. Ia
kembali menuliskan tentang kebobrokan Pertamina. Membandingkan Pertamina dengan
hasil minyak Arab, dimana hasil dari minyak Arab sangat ditakuti kekuatannya
oleh negara – negara maju.
Hanya Indonesia
yang mendapat masalah berat dari minyaknya, sementara negara – negara produsen
minyak lain memiliki kekayaan melimpah. Seharusnya Pertamina menghasilkan dana
untuk Pemerintah bukan Pemerintah yang menyumbang dana untuk Pertamina. Surat
kabar Indonesia Raya telah ememberi
banyak data untuk pemerintah mengambil tindakan memperbaiki Pertamina. Namun
tak ada satu langkah perbaikan dan pengawasan dilakukan. Ia juga bercerita
tentang rindunya ia pada istrinya, mencoba untuk menguatkan istrinya. Ia juga
bercerita bagaimana cerita – cerita pengalaman tahanan Gestapu. Betapa kesepian
mereka, mereka menerima banyak siksaan.
2 April 1975, Mochtar Lubis masih
dipenjara Nirbaya dan hari ini yang seharusnya penjara Nirbaya kedatangan tim
dari DitPom bersama asistennya ternyata
pun tidak muncul hinga sore hari. Para tawanan Gestaku-PKI masih saja
digantungkan dengan ‘apakah mereka dibebaskan atau tidak’, sama seperti
nasibnya Mochtar Lubis, masih tetap saja digantungkan.
Hari selanjutnya, Mochtar Lubis
bertemu dengan mami, dan saudara-saudaranya di rumah sakit, antara senang
karena bertemu dengan keluarganya tetapi juga hatinya bersedih karena melihat
Kakaknya, abang Bachtar terbaring tak berdaya.
Abang Bachtar pernah menemui Mochtar
Lubis di penjara Nirbaya tetapi sebelum abang Bachtar datang, Mochtar Lubis
didatangi oleh Jaksa Suyono dan senior Suryono, mereka datang membawa pertanyaan-pertanyaan tentang tulisan
ia di Indonesia Raya dari tahun 1973 yang tidak ada hubungannya dengan
peristiwa Malari. Mochtar Lubis berkata pada mereka, “Mengapa baru sekarang
mempermasalahkan isi koran Indonesia Raya? Mengapa bukan dari dulu waktu
tulisan itu diterbitkan? Kalau memang alasan ini saya masuk penjara, tolong
jangan dicampur adukan dengan soal Malari.”
Mereka tersipu saat Mochtar Lubis
mengatkan hal itu, dan mereka berkata pada ia bahwa mereka bukannya
mencari-cari kesalahan ia tapi ini adalah pertanyaan-pertanyaan dari atasan
mereka untuk clearance-nya.
Moctar lubis pun bertanya, “kapan
kita akan bertemu di pengadilan?”
Mereka hanya bisa menjawab dengan
yang tidak pasti, yaitu ‘secepat-cepatnya.’ Ia pun mendesak mereka agar dapat
segera dipertemukan di pengadilan, ia tidak ingin menunggu setahun atau enam
bulan lagi.
Minggu ini, Mochtar Lubis diperiksa
lagi, ia masih bingung mengapa surat penahanan dirinya masih saja dicampur
adukan dengan Malari. Pra tahanan Gestapu/PKI
masih saja digantungkan karena belum adanya follow up berita
pembebasan mereka. Hari Sabtu lampau, Mochtar Lubis akhirnya bertemu dengan
istri dan anak-anaknya, bercakap-cakap tanpa diawasi orang resmi.
Mochtar Lubis masih menjalani
rutinitasnya di Nirbaya, dari hari pertama hingga sekarang, ia bangun pukul
lima pagi setelah itu ia jogging sejauh dua setengah kilometer
mengelilingi lapangan di depan bungalownya. Lalu, mandi dan memakan
sarapannya. Tau-tau ia ingin melukis danau, ia pun kembali ke bungalow
dan mengambil peralatan melukis. Ia pun mengkonsentrasikan fokusnya hanya untuk
melukis.
Suara dari penjaga memanggil Mochtar
Lubis, ia pun kembali ke realita. Penjaga itu berkata padanya bahwa komander
penjara ingin ia datang ke ruangannya. Mochtar lubis hanya menjawab oke dan
melanjutkan kegiatan melukisnya. Lima menit kemudian, penjaga itu kembali lagi
dan berkata padanya bahwa Mochtar Lubis disegerakan ke ruangan komander penjara
karena ini penting.
Ia pun menyelesaikan kegiatan
melukisnya dan membersihkan kuasnya juga. Ia kembali ke bungalow
kemudian mandi dan berpakaian. Ia pun masih dengan satainya berjalan ke arah
ruangan komander penjara.
Komander penjara menyapa Mochtar
Lubis dengan senyum lebar dan berkata padanya bahwa ia mendapat telepon dari military
office, Colonel-penanggung jawab penjara militer, menyuruh Mochtar Lubis
untuk datang ke ruangan kolonel di Kebon Sirih.
Sesampainya disana, Mochtar Lubis
mendapat berita bahwa ia mungkin dapat dibebaskan. Ia disuruh menunggu beberapa
officer dari Attomey General office yang masih diperjalanan. Sekitar
lima belas menit kemudian, mereka datang dan menjelaskan bahwa Mochtar Lubis
untuk disegerekan ke kantor Attomey General, General Ali berkata
, ia diundang untuk datang ke kantornya. Mereka juga berkata padanya, bahwa ia
dibebaskan. Sesampainya di sana, ia disambut oleh General Ali dengan senyuman
lebar dan mereka berpelukan.
Akhirnya, Mochtar Lubis bebas,
tetapi sebelum Mochtar Lubis diperbolehkan untuk bertemu dengan istri dan
anak-anaknya, General Ali ingin berbicara pada Mochtar Lubis. General
Ali meminta bantuan padanya untuk membebaskan tahanan yang lainnya. Mochtar
Lubis pun dengan senang hati untuk membantunya walaupun harus pergi ke penjara
dimana para tahanan lain dipenjara dan berbicara pada mereka. Mereka berpisah
dan berjanji untuk tetap keep in touch. Mochtar Lubis diantarkan ke
rumahnya oleh salah satu officers, ia adalah anggota tim introgasi juga.
Sesampainya dirumah,ia bertemu kembali dengan keluarganya. Setelah itu, ia
kembali ke penjara Nirbaya ditemani dengan kedua putra nya untuk mengambil
pakaian, buku dan sebagainya. Tak lupa Mochtar Lubis berpammitan dengan tahanan
lainnya.
Komentar
Posting Komentar